Hallo semuanya, diblog ini saya akan memeberikan suatu cerita inspiratif. Sebelum itu kita harus mengetahui apa itu cerita inspiratif. Cerita inspiratif adalah sebuah cerita yang membuat pembaca terinspirasi dari kisah tokoh dicerita tersebut.
Di blog ini, saya juga akan menunjukan cerita inspirasi buatan saya, bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada pembaca. Sedikit spoiler bahwa tokoh di cerita tersebut sedikit tersiksa, hehe. Semoga suka, selamat membaca.
HATI YANG LAPANG
Keriuhan ditengah kota sudah terdengar memekikan telinga, nampak
seorang gadis sedang tergesa-gesa mengayuh pedal sepeda tua yang ia kendarai
akibat bangun kesiangan. Sekarang tujuan utama dia adalah masuk kedalam gerbang
sekolah sebelum ditutup oleh penjaga berseragam hitam putih. Sayangnya
keberuntungan belum berpihak kepadanya hari ini, ia ketinggalan lampu merah
yang mengharus menunggu lampu itu berwarna merah lagi dengan omelan lirih yang
keluar dari mulut gadis itu.
Lampu sudah berganti hijau, tetapi tak jauh dari sana ia
harus dilanda macet karena kesiangan dan pastinya jalanan sangat ramai dipenuhi
oleh pengendara yang senasib dengannya. Harapan untuk masuk gerbang sekolah dengan
tepat waktu mungkin hanya angan-angan untuknya. Mulut gadis itu tidak
henti-hentinya menggerutu karena arus jalan yang ia lalui macet, karena
persimpangan ini tidak memiliki lampu merah dan hanya ada seseorang dengan
tongkat merahnya.
Karena tidak mau harus terlambat terlalu siang, ia harus
mengayuh sepedanya lebih cepat lagi, sampai harus membalap beberapa pengendara
lain, jangan lupakan bahwa sepedanya itu hanya sepeda tua yang kapan saja bisa
putus rantainya secara tiba-tiba. Dan ya.. kejadan itu ia alami sekarang. Akhirnya
ia memutuskan untuk meninggalkan sepedanya ditengah kota dan berharap ada orang
baik yang menyimpannya.
Saat sedang berlari mengikis waktu
untuk tiba disekolah, tiba-tiba ia tersandung batu dan kakinya terluka. Gadis
itu memutuskan untuk terus berjalan walaupun dengan kondisi kakinya yang
terluka, karena memang hanya beberapa meter saja ia sudah sampai didepan
gerbang sekolahnya itu.
Dugaanya benar, gerbang sekolah sudah tertutup rapat dan ia
harus memohon kepada bapak berbaju hitam putih itu agar mau membukakan gerbang
yang menjulang tinggi ini. “Pak, tolong bukakan gerbang ini.”. “Mengapa kamu
terlambat nak, ini sudah waktunya jam pelajaran.”. Jawab bapak itu. “Panjang
pak ceritanya, maka dari itu tolong bukakan gerbangnya sekarang pak.”
Akhirnya setelah berhasil masuk kehalaman sekolah, ia segera
berlari menuju kelas, walaupun harus beradu mulut dahulu dengan pak satpam.
Tetapi saat sedang melewati lorong, ia bertemu dengan guru piket yang emang
sedang berkeliling. “Hey nak, sedang apa kamu disana?”. Tanya Guru itu. “Anu
bu, itu.. saya terlambat.”. “Sudah jam segini kamu baru masuk, ini sudah sangat
siang Lia, bisa-bisanya kamu terlambat sesiang ini.”. Guru itu sedikit menekan
suaranya karena kesal dengannya. “Saya tadi terkena macet bu, dan rantai sepeda
saya tiba-tiba putus ditengah jalan.” terangnya. “Sudah-sudah jangan banyak
alasan, tulis ‘saya tidak akan terlambat’ sebanyak 5 lembar di kertas hvs penuh
sebagai hukuman, siang nanti kumpulkan diruangan ibu.”. “baik bu.”. Komplit sudah penderitaannya pagi ini. Bukanya
disuruh untuk ke UKS, malah dapat hukuman. Dengan lesu ia segera masuk kedalam
kelas yang untungnya belum ada guru didalamnya.
Bel pulang pun akhirnya berbunyi, Ia segera berjalan menuju
parkiran setelah mengumpulkan hukumannya. Sesaat ia teringat jika sepedanya ada
di tengah kota, yang mengakibatkan ia harus mencari tumpangan dari temanya
karena ia tidak memiliki uang untuk naik ojek, tidak hanya itu, tenaganya juga
sudah habis karena berjalan kesekolah tadi. Mata elangnya tidak sengaja melihat
Putri sedang bersiap untuk pulang dengan
motornya, dan berakhir ia menumpang dengan Putri setelah menjelaskan kejadian
yang ia alami.
Tak terasa mereka sudah dekat dengan tempat Lia meninggalkan
sepedanya. “Putri Putri sampai disini aja, itu didepan udah deket.”. “Oke.”.
Jawab Putri. “Makasi ya putri tumpanganya, kalau bukan kamu mungkin aku bakalan
jalan kaki kesini.”. Lia berterimakasi kepada Putri. “Iya gapapa, ini aku
tinggal nggak papa kan, aku ada les soalnya.”. Pamit Putri. “Iya Put, makasi
banyak ya.”. Putri hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu bergegas
untuk pergi karena jam lesnya sudah mepet.
Putri berjalan santai menuju tempat ia meninggalkan
sepedanya, lalu ia merasa ada yang aneh. “Yaallah sepeda ku!!!, sepedaku!!!.”. Sontak
kepanikan yang luar biasa melanda dirinya. Lia benar-benar pucat dan tak
percaya bahwa sepedanya hilang, ia bertanya pada orang sekitar apakah ada yang
mengetahui sepedanya, sampai tak sadar jika ia mondar-mandir seperti orang yang
kehilangan arah. Bagaimana tidak, hanya sepeda itu yang dimilikinya, mau pakai
apa ia pergi kesekolah kalau tidak ada sepeda itu. Rasanya ia ingin menangis
tak kunjung menemukan sepedanya itu, karena ia sudah sangat lelah dan ingin
pulang tapi malah mendapat cobaan seperti ini. Tak jauh dari situ ia menemukan pedagang
yang belum ia tanyai tentang sepedanya. Dan saat mendengar apa yang diucapkan
pedagang tersebut, mampu membuat ekspresinya berubah total. “Lain kali
sepedanya jangan ditaruh sembarangan ya dek, untung saja saya tau, kalau tidak
bisa hilang itu.”. Tegur pedagang itu. “Iya, siap pak, teriamakasi
sebanyak-banyaknya sudah menyimpan sepeda saya, karena ini harta satu-satunya
bagi saya.”. Ucap Lia. “iya nak sama-sama.”. Betapa senangnya, seperti
menemukan harta karun yang sudah ia cari dari sabang ke merauke, sampai lupa dengan
luka dikakinya karena sepeda itu. Lantas ia segera bergegas pulang, takut
kesorean dan dicari oleh ibunya.
Setelah sampai, ia segera memakirkan sepedanya dihalaman
rumah dan segera masuk, tak lupa mengucapkan salam kepada ibunya yang ternyata
telah menunggu diruang tamu. “Dari mana saja kamu nak, sore-sore begini baru
pulang.”. Tanya sang ibu seraya menghampiri Lia dan memperhatikan dari atas
sampai bawah. “Nanti akan aku ceritakan kepada ibu, tapi sekarang aku mau
bersih-bersih dulu.” sang ibu hanya menganggukan kepala sambil melihat anaknya
berlalu.
Setelah bersih-bersih dan mengobati lukanya yang sudah tidak
terlalu sakit itu, ia segera mencari dan membawa ibunya keruang tamu untuk
menceritakan apa yang sudah ia alami hari ini. “Bu, hari ini kenapa sangat
berat ya, tadi pagi saja aku ketinggalan lampu merah, lalu rantai sepedaku
putus, saat perjalanan menuju sekolah aku juga terluka karena jatuh, habis itu
aku juga kena hukum sama guru karena aku terlambat, habis itu, ibu tau hal yang
paling membuat aku hampir menangis ditengah jalan, sepeda aku hampir hilang bu,
untung saja ada pedagang baik yang menyimpan sepedaku.”. Sang ibu mengelus lembut
surai anaknya dan berkata “Maaf ya nak, ibu belum bisa membahagiakanmu, tetapi
ibu mau memberi tau sesuatu, sebentar ibu ambilkan terlebih dahulu.”
Lia sempat kebingungan karena ibunya kembali dengan membawa sendok,
garam, baskom dan gelas yang berisi air. “Buat apa ini bu? apa ibu mau
memasak?.”. Tanya Lia kebingungan. “Tidak Lia, coba kamu masukin garam satu
sendok makan ke gelas dan baskom.”. “Sudah bu.”. “Coba kamu rasakan air yang
dibaskom dan air yang digelas.”. “uekkk… asin sekali…” respon Lia. “Asin mana
Lia? yang dibaskom atau yang di gelas?.” Tanya ibu. “Tentu saja asin yang di
gelas bu.”. Jawab Lia. “Nah, apakah kamu tau mengapa ibu melakukan ini?.”.
“Tidak bu, Lia nggak paham.”. Jawab Lia yang kebingungan. “Jadi begini, garam
itu ibaratkan dengan masalah yang kamu hadapi, jika masalah itu ditaruh dihati
yang sempit seperti gelas pasti akan terasa berat, tetapi jika masalah itu
diletakan di hati yang luas tentu tak akan seberat yang ada digelas tadi. Jadi
cobalah menerima cobaan dari Allah walaupun cobaannya berat tetapi jika kamu
memiliki hati yang luas pasti kamu bisa melaluinya.”
Tak terasa, nasihat yang diucapkan ibunya sangat menyentuh
hatinya, sehingga ia tersadar selama ini ia kurang bersabar dan selalu
mengeluh, spontan ia memeluk ibunya yang sudah menyadarkan hatinya.
Jadi jangan pernah mengeluh dengan cobaan yang kita hadapi,
itu semua cobaan yang Allah berikan kepada kita, dan itu semua tergantung diri
sendiri yang menghadapi, kita mampu atau tidak melewati cobaan tersebut. Apakah
hati kita sekecil gelas? atau sebesar baskom? itu semua tergantung diri
sendiri, jadi mau sebesar apapun cobaanya jika hati kita besar tentu tidak akan
berat, atau mungkin tidak terasa apa-apa.
Nahh, bagaimana?? apakah kamu terinspirasi dengan cerita diatas.
Sampai jumpa di blog berikutnya👋

Komentar
Posting Komentar